Sang Pendoktrin: Fauzan Al Rasyid

Seorang mahasiswa perempuan sering kali kurang ajar, memanggil diri laki-laki itu dengan sebutan “Sang Pendoktrin”. Bukan maksud bermakna negatif, tetapi sebuah konotasi positif ditujukan untuk laki-laki yang membantu mengarahkan hidup si perempuan.

Fauzan Al Rasyid namanya, laki-laki yang di panggil “Sang Pendoktrin” oleh perempuan itu. Ia termasuk pria mapan, menjabat sebagai senior editor di salah satu media asing, yaitu RBTH Indonesia, sekarang namanya berubah menjadi Russia Beyond. Ia merupakan lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia tahun 2012, peminatan jurnalisme.

Si perempuan yang sekarang masih menjadi mahasiswa, menempuh jalur yang sama dengan Fauzan. Mengambil jurusan dan peminatan yang sama, jurnalisme dan Komunikasi UI. Bukan suatu kebetulan tentu saja. Benar, perempuan itu memang menyukai dunianya sekarang. Tapi tepat pula jika Fauzan menjadi pendoktrin bagi si perempuan.

Si perempuan, sebut saja “Fira” sudah mengenal Fauzan sekiranya empat tahun. Ya bisa dikatakan baru kenal. Bermula dari Fira yang masih di bangku SMA mengikuti suatu ekskul yang bertekun di dunia jurnalistik (kala itu hanya mading dan radio sekolah) dan Fauzan datang menawarkan diri menjadi pelatih ekskul.

Sejak itu, Fauzan membantu Fira dan teman-teman di ekskulnya. Mulai dari rebranding ekskul tersebut hingga ilmu yang mereka dapatkan, yang sebelumnya sangat dinantikan. Nama, logo, konsep, struktur, anggota, dan tugas, semuanya menjadi lebih berwarna karena Fauzan. Ia datang dan memberikan wawasan baru untuk Fira dan teman-temannya. Mereka dididik untuk siap akan tugas dadakan, baik membuat suatu tulisan, meliput kegiatan, dsb. Semua tak terduga. Pengalaman baru, cerita baru, dan relasi baru.

Hingga waktu pengumuman datang, Fira diterima di Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia. Fauzan tentu menjadi salah satu mentor Fira, bukan lagi pelatih ekskul. Mentor yang sudah lama lulus, yang mengenalkannya lebih dulu dunia kampus.

Fauzan membawa Fira ke lingkungan ia dulu. Bercerita mengenai masa mudanya, keaktifan ia di kampus, kegiatannya, dosen-dosen yang mengajar, mata kuliah yang ia pelajari, dan kemasyhuran dirinya kala itu. Walau sampai sekarang pun masih.

Fira berangan-angan, bermimpi, dan bersyukur mempunyai seorang mentor alias senior dan sekaligus alumni yang membantu mencerahkannya mengenai dunia perkampusan. Meski sebenarnya keadaan di kampus tersebut sudah berbeda, karena jarak Fira dan Fauzan cukup jauh.

Fira juga berpikir awal relasi ini akan menjadi manfaat untuk di masa depan. Dan benar, Fira yang saat itu masih menjadi mahasiswa baru atau “maba” berkonsultasi organisasi apa yang bagus untuk ia ikuti. Fauzan tentu mengenalkan Fira dunia organisasinya dulu, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP.

Namun, pada akhirnya Fira bergabung di Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK). Sejak itu jalan Fira berbeda dengan Fauzan. Fauzan bisa dikatakan sebagai “anak FISIP”, sedangkan Fira adalah “anak Kom” (istilah yang digunakan mahasiswa FISIP untuk menjuluki seseorang yang aktif di fakultas dan jurusan).

Sang Pendoktrin pernah bercerita mengapa ia tidak bermain di jurusannya. Ketika masa kuliahnya dulu, ada ospek jurusan (orientasi perkenalan dunia kampus untuk maba). Pada masa tersebut, Komunikasi UI terkenal dengan ospeknya yang keras dan kurang berfaedah. Sampai akhirnya Fauzan dan teman-temannya keluar dari kegiatan tersebut. Dan kala itu, tidak mengikuti ospek = siap diabaikan satu angkatan. Fauzan menceritakan semua pengalaman manis pahitnya di kampus. Ia memberi pesan kepada Fira. Dan tentu sebagai murid yang terkadang patuh ia mendengarkan nasihat dan arahan Fauzan. 

Bagi Fira, Fauzan ialah guru yang menjadi suri tauladannya. Fauzan memang banyak mendoktrinnya, tapi tenang. Ia tidak menanamkan ajaran yang sesat, ia hanya membuat Fira semakin berpikir kritis. Fira juga tidak menerima arahan dan nasihat mentah-mentah, ia seringkali protes dan mengeluh. 

Oleh karenanya, Sang Pendoktrin bukan hanya berperan sebagai guru, melainkan mentor, kakak, sahabat, dan terkadang role model. Seperti suatu filosofi, “Guru sebagai cerminan murid-muridnya”. Fira pun bercermin pada Fauzan yang ia anggap sebagai gurunya.

..

 

 

 

 

Advertisements

1 thought on “Sang Pendoktrin: Fauzan Al Rasyid”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.