Kiat Belajar Menyambut Ujian Akhir ala Mahasiswa Universitas Indonesia

Akhir tahun tinggal menghitung hari. Biasanya, orang-orang sudah sibuk merencanakan liburan akhir tahun mereka. Namun, kebanyakan mahasiswa, khususnya mahasiswa UI, tampaknya harus menunda sejenak imajinasi kesenangan Tahun Baru arena mereça harus menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) terlebih dahulu.

Tiap mahasiswa pasti punya caranya masing-masing untuk mempersiapkan UAS. Namun, bagaimana jika persiapan ujian mereka diiringi aktivitas di luar kegiatan akademik? Simak cerita dari lima orang mahasiswa UI berikut, selain harus bersiap menghadapi UAS, juga memiliki kesibukan lain yang kalah menyita perhatian.

Faiz Farraz, FMIPA UI

Saya berkuliah di jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Di FMIPA, baik UTS maupun UAS sama-sama berlangsung selama dua minggu. Namun, jika fakultas lain umumnya ada ujian seat in (ujian di kelas) dan take home (ujian yang di kerjakan di rumah), di sini tidak. Take home itu merupakan ujian perbaikan atas apa yang dikerjakan di kampus, bisa dibilang sebagai remedial. Karena seat in, saya belajar materi ujian dengan dicicil. Terkadang ketika mencicil lalu merasa bosan, saya memilih “SKS” atau Sistem Kebut Semalam.

Saya menjabat sebagai kepala Biro Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Departemen (Kabiro Humas HMD) Fisika dan sedang menyiapkan program kerja (proker) himpunan. Proker ini cukup menyita waktu, tapi taktik saya memprioritaskan mana yang lebih dulu harus dikerjakan. Saya termasuk orang yang santai, tapi materi yang belum dimengerti pasti saya prioritaskan untuk dipelajari. Selain itu, penting untuk belajar dengan latihan dari soal tahun-tahun sebelumnya.

Karina Dhara, FISIP UI

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dan menekuni peminatan Humas, salah satu cara saya belajar efektif adalah berdiskusi dengan teman-teman. Kebanyakan baik UTS maupun UAS Humas berupa proyek kelompok, jadi memang selalu ada diskusi. Walau konteksnya belajar, bagi saya hal ini sekaligus refreshing karena mengerjakannya di kafe 24 jam atau pusat perbelanjaan. Saya juga suka mencicil materi, H-4 atau H-3 ujian, baca-baca soal tahun-tahun sebelumnya, dan cari referensi agar saat pekan ujian tidak terlalu berat.

Saya sekarang disibukkan dengan kegiatan Abang None (Abnon) Jakarta 2017, kebetulan saya terpilih sebagai Wakil I None Jakarta Timur 2017 dan Harapan II None Jakarta 2017. Selain itu, ada juga kegiatan dari Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) dan Model United Nations (MUN). Abnon sedang ada proyek besar di bulan Maret, tapi persiapannya dari sekarang. Di AIESEC, saya mengurus nota kesepahaman (MoU) dan di MUN sedang banyak simulasi. Jadi, kegiatan saya cukup padat. Namun, saya mengontrol kesibukan itu dengan membagi waktu dengan prioritas.

Saya tahu kewajiban saya ialah kuliah. MUN, Abnon, dan AIESEC mendapat prioritas kedua. Kewajiban saya di Abnon adalah kerja dan bagi saya edukasi adalah yang terpenting. Karena itu, saya memilih kuliah dulu, tapi jika di Abnon memang sangat penting dan kelas saya bisa ditinggal, saya akan menggunakan jatah absensi.

Oleh karenanya, saya menyeimbangkan semuanya dengan menyusun jadwal di kalender. Jadi, sudah mengetahui rutinitas apa saja yang akan dilaksanakan sehingga waktu belajar pun tak terganggu.

Aida Renata, Arsitektur, FT UI

Ujian saya sudah tidak lagi seat in atau take home, melainkan ujian perancangan arsitektur. Ujian akhirnya pun berupa presentasi hasil perancangan yang progresnya sudah dibuat dari tengah semester.

Taktik saya tidak sulit, saya selalu mengejar materi yang akan dipresentasikan, membuat diagram penguat konsep, dan menyiapkan jadwal selama dua pekan. Jadwal ini untuk mengetahui deadline rancangan yang harus dipersiapkan.

Karena tugas-tugas di Arsitektur berupa rancangan, kegiatan yang saya ikuti cukup sering bertabrakan dengan persiapan tugas-tugas tersebut. Saya menyiasatinya dengan multitasking, rapat sambil mengerjakan tugas. Teman-teman saya memaklumi karena mereka pun begitu. Jika tidak bisa multitasking, saya pasti begadang, bisa tiga malam tidak tidur atau paling tidak dapat dua atau tiga jam untuk tidur.

Terkadang kalau jenuh, saya belajar di kafe 24 jam bersama teman-teman berbeda jurusan. Pikiran saya bisa lebih tenang dan bisa berkumpul dengan teman-teman juga.

Rainanda, FT UI

Saya dan teman-teman di jurusan Teknik Mesin ada tradisi menjelang ujian, yaitu mengumpulkan diktat dan bahan-bahan yang akan muncul saat ujian. Setelah itu, kami akan membahas bersama di kos dan yang pintar mengajari lagi ke yang lain agar ingat, kemudian mengerjakan soal bersama.

Di Teknik Mesin ujiannya itu ada seat in dan tugas besar, seperti membuat suatu proyek. Saya sendiri sedang membuat pembangkit listrik tenaga gelombang skala kecil, ini untuk tugas merancang. Tugasnya berupa membuat ide, merancang, dan disidang. Beberapa mata kuliah lain juga ada yang seperti ini. Tugas-tugas ini intensif selama seminggu sebelum pekan ujian akhir.

Menyiasati ujian seat in, saya terkadang belajar SKS, kebut semalam, tapi lebih sering belajar saat di kelas, jadi memperhatikan betul. Kalaupun ada kegiatan di Kamuka Prawarta (KAPA) FT UI, Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam, biasanya menyesuaikan dengan jadwal ujian.

Elizabeth, FEB UI

Kalau di Fakultas Ekonomi Bisnis UI, terutama jurusan saya Akutansi, cara belajarnya tidak jauh berbeda. Biasanya mengulang bahan kelas asistensi dan mentor. Kelas asisten dosen hukumnya wajib, resmi dari fakultas. Di kelas tersebut umumnya kami mendapat nilai dari kuis dan absensi. Sementara, kelas mentor dipimpin oleh senior atau kakak tingkat, umumnya membahas soal-soal terkait materi untuk ujian, ini salah satu proker himpunan saya. Biasanya si mentor ini dibayar oleh himpunan.

Selain itu, saya sendiri belajar dengan mengerjakan soal tahun sebelumnya dari website himpunan. Di website, materi yang disuguhkan cukup lengkap, ada soal dan pembahasan, jadi bagus untuk referensi. Tentunya jika materi yang diujiankan banyak dan mata kuliah hafalan, saya dan peer group membagi-bagi bab untuk membuat ringkasan. Seringkali satu mata kuliah yang diujiankan terdiri dari 10 bab, tidak mungkin hanya membaca dari buku, jadi perlu membuat rangkuman super lengkap.

Saya jarang sekali belajar bersama jika menjelang ujian. Saya dan teman-teman dekat lebih memilih belajar sendiri, kecuali ada materi yang tidak dimengerti baru berdiskusi

Kebetulan saya kemarin menjabat sebagai kontrol internal Divisi Pertiketan kepanitiaan Jazz Goes to Campus (JGTC). Jujur, sulit sekali untuk mengatur waktu. Namun, saya sebisa mungkin tidak bolos kelas wajib dan kelas asistensi. Bagi saya, asal saya sudah mencicil belajar dan merangkum, beban saya akan sedikit lebih ringan.

 

 

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi UAS mata kuliah Menulis Feature yang mengharuskan dimuat di surat kabar. Tulisan ini sudah dimuat di SK Radar Depok tanggal 11 dan 12 Desember 2017.
Terima kasih untuk Faiz, Karin, Jojon, Rena, dan Abeth yang mau bersedia di wawancara bahkan dimintain foto. Namun, sayang fotonya gabisa masuk koran semua, jadi pake foto di atas:)
Credit foto: Angga Adriwinanto
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.