SKY Castle: Drakor Minim Promosi tapi Rating Tinggi

Promosi minim tidak menghambat drama bergenre satire yang membuat penontonnya merasakan berbagai gejolak emosi ini memiliki rating rendah. Siapa sangka SKY Castle yang memiliki rating 1,3% pada episode perdananya menjadi drama terfavorit di awal tahun 2019. Dan apa sebenarnya hubungan drama ini dengan Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University?

Oke … jadi aku baru aja menyelesaikan drama SKY Castle yang bisa dibilang masih cukup hangat dibicarakan. Dalam artian, mungkin hangat di Indonesia dan di Korea Selatan sendiri …. Aku menamatkan drama ini kira-kira dua minggu lalu, tapi emang baru sempat nulis sekarang. Hehe.

Mungkin banyak KDrama lovers yang udah menonton drama ini terlebih dahulu. Beberapa teman aku juga mengikuti drama ini dari awal. Dan kenapa aku baru menamatkannya …. Jadi, pertama kali drama ini keluar aku agak penasaran sih. Khususnya, setelah official posternya itu rilis dan menggambarkan para wanita serta pria yang sepertinya memiliki kehidupan sebagai sosialita. Saat teaser dan trailer-nya juga. Aku mikir “oh oke nih kayaknya”. Akan tetapi, setelah liat trailer-nya itu, aku jadi mikir ini kayaknya dramanya tentang keluarga chaebol kali ya. Kemudian, jadi ragu aja buat nonton. Ditambah lagi, agak ga familiar sama casts drama ini. Aku cuma tahu beberapa aktor, seperti Choi Won-Young, Jo Jae-Yun, Kim Byoung-Cheol, Kim Seo-Hyung, dan Yoon Se-a. Itu juga karena mereka ada di beberapa drama yang pernah aku tonton. Sisanya sih, kurang tahu ya … tapi memang semua aktor dan aktris di sini sebenarnya para senior. Oke lanjut, karena emang suka drakor dan aku saat itu bingung mau nonton apa lagi, dan drama lain yang on going rata-rata bergenre horor (aku anti banget) …. Akhirnya, memutuskan untuk menontonSKY Castle.

Jujur … tahu drama ini juga karena liat update situs daring yang biasa aku pakai buat menonton drakor. Sebelumnya, ga pernah dengar tentang drama ini. Berita mau rilisnya aja ga pernah lihat. Biasanya asianwiki.com selalu ada jadwal drakor yang akan rilis sih, cuma aku emang lagi ga update aja. Lalu, pas nonton episode pertama … agak bosen ya … hmm …. Gitu aja selama nonton. Lewat beberapa minggu, aku lagi nonton variety shows (lupa tapi yang mana), pada ngomongin SKY Castle ini. Dan beberapa idol juga banyak yang ngomongin. Jadi, drama ini dapat promosi dari netizen aja, melalui e-WoM (electronic word of mouth) dan MoM (mouth of mouth). Belum lagi aku ga sengaja dengar original soundtrack-nya yang jujur cukup ear worm. Selang beberapa waktu, drama ini ada di berita media lokal dan fansite gitu: rating tinggi; drama terfavorit akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019; drama satire; dan lain-lain.

Intinya, ada teman aku yang nonton juga dan aku tanyalah. Akhirnya, aku memutuskan untuk nonton. Berhubung aku orang yang bisa menamatkan drakor dalam satu-dua hari (tergantung jumlah episode) jadi ga masalah untuk mencoba. Setelah menonton sampai episode ke-7 … aku langsung tertarik! Ini literally satire banget! Sebenarnya, di tiap drakor yang latar belakang ceritanya anak sekolahan, pasti selalu menyisipkan unsur-unsur menyindir dari sistem pendidikan di Korea Selatan. Akan tetapi, SKY Castle ini lebih menunjukkan sisi orang tuanya.

Di situ salah satu unsur menariknya dari drama ini. SKY Castle benar-benar menyindir bagaimana persaingan di antara pelajar itu super ketat. Nah, tapi fokus drama ini bukan anak-anaknya ya, melainkan para orang tuanya yang berambisi. Belum lagi kalau orang tua si pelajar ini memang kalangan atas atau dari profesi tertentu yang bisa membantu anaknya mendapatkan pendidikan terbaik, dan mungkin dengan segala cara. Kalau di drama ini, profesi orang tua yang ditonjolkan adalah dokter dan seorang dosen hukum.

Selain itu, sisi menarik dari drama ini juga terletak pada judulnya. Kata SKY sebenarnya merupakan singkatan yang merujuk pada tiga universitas ternama di Korea Selatan, yaitu Universitas Nasional Seoul, Universitas Korea, dan Universitas Yonsei. Di Korea Selatan, diterima di salah satu universitas SKY dianggap sebagai penentu karir dan status sosial si pelajar tersebut. Sebetulnya ga beda jauh sama di Indonesia ya. Kalau para pelajar di sini diterima di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) pasti menjadi kebanggaan tersendirikan? Siapa sih orang tua yang tidak bangga kalau anaknya diterima di sekolah favorit atau unggulan nasional atau internasional? Orang tua pada umumnya pasti bangga! It’s a common thing as human.

Nah, balik lagi ke drama SKY Castle. Mengacu pada keadaan tadi, drama ini bercerita tentang keluarga dengan latar belakang perumahan mewah bernama SKY Castle yang dihuni oleh keluarga kalangan atas, khususnya profesi dokter dan dosen. Jadi, drama ini mengisahkan obsesi para penghuni yang secara ambisius bersaing untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya agar diterima di fakultas kedokteran Universitas Nasional Seoul (SNU). Tujuannya apa? Jelas, untuk menjaga status sosial dan kehormatan keluarga. Khususnya keluarga yang udah jadi dokter dua generasi, pasti ingin anaknya melanjutkan jadi dokter agar mendapat title “keluarga dokter tiga generasi”. Ya, semacam itu. Cuma memang drama ini menunjukkan persaingan-persaingan yang tidak sehat. Segala cara digunakan, padahal itu salah. Melanggar hukum iya, melanggar norma yang berlaku juga iya.

Kalau secara logika ya, itu manusiawi sekali (maksudnya, bersaing demi mendapatkan sekolah terbaik ya!). Oleh karena itu, drama ini menarik buat aku karena menyindir — dan mengandung nilai moral juga tentunya — bukan hanya tentang di Korea Selatan sendiri, tapi lebih kepada di kehidupan sehari-hari aku juga begitu. Mudah sekali buat ketemu keluarga atau teman yang ada di drama ini. Itu jelas. Menarik karena drama ini sebenarnya sederhana.

Terkait sistem pendidikan di Korea Selatan sendiri, kalau KDrama lovers pasti tahu sih, tiap drakor cerita anak sekolahan, misal seri School, Angry Mom, Cheer Up! Sassy Go Go!, The Heirs, My Strange Hero, Dream High, Princess Hours, BBF, duh kayaknya masih banyak lagi sih. Drama-drama tadi dan mungkin juga yang lain, jelas menggambarkan bagaimana pendidikan di Korea, mulai dari waktu belajar yang harus maksimum, persaingan gila-gilaan, guru mendiskriminasi siswa yang kurang pintar atau tidak rajin, membanding-bandingkannya, atau mungkin diskriminasi dari latar keluarganya (well, soal diskriminasi aku gatau ya apakah masih ada yang kayak gitu). Akan tetapi, opini pribadiku pasti masih ada. Gausah jauh-jauh melihat di Korea Selatan, di Indonesia juga masih banyak kok yang kayak gitu. Entah guru, entah orang tuanya, atau sesama teman. Diskriminasi memang susah buat dihindari. Perbandingan sesama manusia lagi … itu juga sukar dihilangkan.

Menutup tulisan ini, mungkin bisa juga tonton cerita salah satu influencer Korea yang lama tinggal di Indonesia alias Mas Hansol aka Korean Rommit tentang pendidikan di Korea. Intinya, bersyukur deh buat orang Indonesia karena sistem pendidikan kita tidak seberat di sana. OH DAN TERAKHIR …. Buat aku, pesan dari drama ini mengajarkan untuk mengingat jasa-jasa orang tua kita dan … jangan lupa untuk berterima kasih sama ibu dan bapak guru (terlepas dari apa pun), berat loh jadi pengajar atau pendidik. 🙂

Resensi selanjutnya tentang drakor Welcome to Waikiki ya … soalnya, bentar lagi season 2-nya mau keluar! Ciao!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.